Jumat, 01 Juni 2012

Perawatan Jenazah


Perawatan Jenajah

Takziah

Takziah  adalah berkunjung kepada keluarga yang meninggal dunia. Hukumnya sunah, bahkan bias menjadi  wajib , apabilajenazah muslim/muslimat tidak ada yang mengurusnya (memandikan,  mengafani,  menyalatkan, dan menguburkan) misalnya seseorang yang hidup sebatang kara.
“dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, ‘barang siapa yang (takziah) hingga di salatkan, maka dia mendapat pahala satu qirat,dan barang siapa yang menghadirinya sampai dikuburkan,maka baginya mendapatkan 2 qirat.’ Ketika Rasulullah SAW ditanya sahabat apakan 2 qirat itu? Beliau menjawab ‘ laksana dua butir besar’ ( H.R. Bukhari dan muslim)

Ziarah kubur

Ziarah kubur adalah amalan yang sangat bermanfaat baik bagi yang berziarah maupun yang diziarahi. Bagi orang yang berziarah, maka ziarah kubur dapat mengingatkan kepada kematian, melembutkan hati, membuat air mata menetes, mengambil pelajaran, dan membuat zuhud terhadap dunia.
Ziarah kubur banyak memiliki hikmah dan manfaat, di antara yang terpenting adalah :
·         Ia akan mengingatkan akhirat dan kematian sehingga dapat memberikan pelaja ran dan ibrah bagi orang yang berziarah. Sehingga dapat memberikan dampak yang positif dalam kehidaupan.
·         Mendoakan keselamatan bagi orang-orang yang telah meninggal dunia dan memohonkan ampuna untuk mereka atas segala amalan di dunia.
·         Untuk menghidupkan sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
·         Untuk mendapatkan pahala kebaikan dari Allah dengan ziarah kubur yang dilaku kannya.
  
 ziarah kubur itu ada dua macam:

1.      Ziarah syar’iyah yang diizinkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan dalam ziarah ini ada dua tujuan, pertama bagi yang melakukan ziarah akan dapat mengambil pelajaran dan peringatan, yang kedua bagi mayit ia akan mendapatkan ucapan salam dan doa dari orang yang berziarah.
2.      Ziarah bid’iyah yaitu ziarah kubur untuk tujuan-tujuan tertentu bukan sebagaimana yang tersebut di atas, di antaranya untuk shalat di sana, thawaf, mencium dan mengusap-usapnya, mengambil sebagian dari tanah atau batunya untuk tabaruk, dan memohon kepada penghuni kubur agar dapat memberi pertolongan, kelancaran rizki, kesehatan, keturunan atau agar dapat melunasi hutang dan terbebas dari segala petaka dan marabahaya dan permintaan-permintaan lain yang hanya biasa dilakukan oleh para penyembah berhala dan patung saja.

Di antara yang perlu diperhatikan dalam ziarah kubur adalah:

·         Ketika masuk, disunahkan menyampaikan salam kepada mereka yang telah meninggal dunia.
·         Tidak duduk di atas kuburan, serta tidak menginjaknya.
·         Tidak melakukan thawaf sekeliling kuburan dengan niat untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri kepada orang yang dikubur ).
·         Tidak membaca Al-Quran di kuburan.
·         Adapun meminta pertolongan dan bantuan kepada mayit, meskipun mayit itu seorang nabi atau wali, ini merupakan syirik besar
·          Tidak meletakkan karangan bunga atau menaburkannya di atas kuburan mayit karena hal ini menyerupai orang-orang Nasrani, serta membuang-buang harta dalam perkara yang tidak bermanfaat. Apabila harta itu disedekahkan kepada orang-orang fakir dengan niat untuk si mayit, niscaya akan bermanfaat untuk si mayit dan bagi orang-orang fakir tersebut.
·         Dilarang membangun di atas kuburan atau menulis sesuatu dari Al-Quran atau syair di atasnya.

Hal-hal yang harus dilakukan saat merawat jenazah sebenarnya meliputi lima hal, yaitu:

Ø  Memandikan
Ø  Mengkafani
Ø  Menshalati
Ø  Membawa ke tempat pemakaman
Ø  Memakamkan

ORANG YANG BERHAK MEMANDIKAN JENAZAH.

·         Sesuai wasiat si mayit,  Jika si mayit telah mewasiatkan kepad seseorang tertentu untuk  memandikan jenazahnya maka orang itulah yg berhak memandikan. 
·          Jika si mayit tidak mewasiatkan kepad siapa pun , maka yang berhak adalah ayahnya atau kakek-kakeknya,kemudian anak laki-lakinya atau cucu-cucunya yang laki-laki. 
·          Jika tidak ada yang mampu , keluarga mayit boleh menunjuk org yg amanah lagi trpercaya utk memandikannya. 
·         Jika si mayit adalah seorang wanita,(sesuai dengan wasiatnya jika ada),  jika tdk ada maka ibunya atau nenek-neneknya, kemudian anak perempuannya atau cucu-cucunya yg perempuan. Jika tdk ada diantara tsb maka keluarganya boleh menunjuk seorang wanita yg amanah lagi trpercaya untuk memandikannya.


Prosesi memandikan dilaksanakan pada tempat yang memenuhi kriteria berikut:

·         Sepi, tertutup dan tidak ada orang yang masuk, kecuali orang yang memandikan dan orang yang membantunya.
·         Ditaburi wewangian untuk mencegah bau yang keluar dari tubuh mayit.


Etika Memandikan

1.      Haram melihat aurat mayit, kecuali untuk kesempurnaan memandikan. Seperti untuk memastikan bahwa air yang disiramkan sudah merata, atau untuk menghilangkan kotoran yang bisa mencegah sampainya air pada kulit.
2.      Wajib memakai alas tangan saat menyentuh aurat mayit, dan sunah memakainya ketika menyentuh selainnya.
3.      Mayit dibaringkan dan diletakkan di tempat yang agak tinggi, seperti di atas dipan atau di pangku oleh tiga atau empat orang dengan posisi kepala lebih tinggi dari tubuh. Hal ini untuk mencegah mayit dari percikan air.
4.      Mayit dimandikan dalam keadaan tertutup semua anggota tubuhnya. Bila tidak memungkinkan atau mengalami kesulitan, maka cukup menutup auratnya saja.
5.      Disunahkan menutup wajah mayit mulai awal sampai selesai memandikan.
6.      Disunahkan pula memakai air dingin yang tawar, karena lebih bisa menguatkan daya tahan tubuh mayit, kecuali jika cuaca dingin, maka boleh memakai air hangat.
7.      Menggunakan tempat air yang besar, dan diletakkan agak jauh dari mayit.



PERLENGKAPAN BAGI YG MEMANDIKAN JENAZAH
·         hendaklah ia memakai penutup hidung&mulut agar bau yg tdk sedap tdk sampai tercium olehnya. 
·         hendaklah ia memakai pelindung tubuh yg baik agar kotoran2 seperti sisa air perasaan daun bidara atau sisa air kapur barus tdk mengenai pakaiannya. 
·         hendaklah ia memakai sarung tangan agar tdk brsentuhan lansung dgn kulit si mayit&agar kotoran2 tdk mengenai kedua tangannya.


TATA CARA PENYEDIAAN AIR PERASAN DAUN BIDARA atau KAPUR BARUS DLM EMBER. 

·      mnyediakan bbrpa liter air sesuai dgn takaran yg dibutuhkn yaitu sesuai. 
·      mnyediakan air perasan didalam ember dicampur dgn 1 gelas ukuran besar berisi perasan daun bidara sesuai dgn takaran.


PERSIAPAN MEMANDIKAN SANG MAYIT.

·         menutup aurat si mayit dgn handuk/kain besar mulai dr pusar smpai lututnya (prlu diketahui bhwa aurat sesama wanita juga demikian).
·         melepas pakaian yg msh melekat ditubuh jenazah.
·         melepas pakaian jenazah dimulai dr lengan baju sblh kanan sampai kerah bajunya,kmudian dr lengan baju sblh kiri smpai kerah bajunya.Selanjutnya dr lubang baju (lubang leher pakaian tempat memasukkan kepala) dr atas smpai kebawah.Stlh itu bagian dpn ditarik dgn prlahan dr bawah handuk pnutup auratnya (hal itu jk si mayit mngenakan gamis / baju pnjang. Jika hnya mngenakan kemeja biasa cukup membuka kancingnya stlh mnggunting lengan baju). Demikian pula caranya jka si mayit mengenakn kaos. Cara melepas celana dr atas sampai kebawah lalu sisi sebelah kiri celananya dgn ttp mnjaga handuk penutup auratnya. Cara mengambil sblh belakang pakaian si mayit,tubuh si mayit dibalik kesebelah kiri lalu pakaiannya digeser ke sebelah kiri. Stlh itu tubuhnya dibalik kesebelah kanan lalu pakaian trsbt dpt diambil dgn prlahan. Dgn catatan handuk penutup auratnya ttp terjaga (jgn smpai tersingkap).
·         menggunting kuku tangan&kakinya jka kuku trsbt panjang.
·         mencukur bulu ketiaknya jka lebat,jika tdk lebat cukup dicabut saja.
·         membersihkan hidung&mulutnya srta menutupnya dgn kapas ktika dimandikan lalu dibuang stlh selesai.


Cara membersihkan tubuh si mayit:
·         dibasuh dgn campuran trsbt dgn mempergunakan handuk kecil (kain lap)dimulai dri kepala lalu wajahnya,lalu menyeka bagian tubuh sebelah kanan dgn membalik tubuhnya ke sblh kiri (hendaknya tubuh si mayit ditopang agar tubuh sblh kanannya dpt dibersihkan dgn mudah).
·         membersihkan bagian tubuhnya sblh kiri,kemudian menyeka bagian tubuh antara pusar&lutut dr balik handuk penutup aurat. (cacatan: auratnya jgn smpai trsingkap).
Prlu diperhatikan bhwa penyekaan trsbt dilakukan dgn tangan kiri.
·         kemudian tubuh si mayit disiram dgn air mulai kepala lalu wajahnya.
·         stlh itu menyiram bagian tubuh sblh kanan dgn membalik tubuhnya ke sebelah kiri. Demikian pula cara menyiram bagian tubuh sebelah kiri.
·         kemudian menyiram bagian tubuh antara pusar&lututnya dari balik handuk penutup aurat.Penyiraman dilakukan sampai bahan2campuran serta kotoran2 trsebut hilang dan brsih. (cacatan: aurat si mayit harus ttp tertutup).
·         membersihkan kotoran yg ada dlm perut si mayit dgn tangan kiri yg terlebih dahulu dibalut dengan kain pembersih.Caranya :Angkatlah sedikit tubuh si mayit (setengah duduk),lalu tekanlah perutnya dgn perlahan sebanyak 3x sampai kotoran2 yg ada dlm perutnya keluar.Stlh itu bersihkanlah kotoran dgn tangan kiri yg telah dibalut dgn kain pembersih,seraya menyiramkan air padanya dgn bantuan seseorang.Jika kotoran trsbt msh terus keluar dr duburnya,maka hendaklah dicuci sampai bersih.Jika msh keluar juga, maka duburnya disumbat dgn kain lalu direkatkan dengan plester.
·         mewudhu kan jenazah.Bacalah (ucapan bismillah)Kmudian cucilah kedua telapak tangan si mayit 3x.
Brsihkanlah mulut&hidungnya 3x. Kemudian basuhlah wajahnya&cucilah tangan kananp&kirinya sampai siku 3x. Lalu usaplah kepalanya dimulai dr bagian depan sampai ke belakang serta kedua telinganya.
Stlh itu cucilah kaki kanan&kirinya 3x.
·         kemudian siramlah kepala si mayit,wajahnya dgn air yg tlh dicampur td,sambil membasuhnya dgn buih nya.
·         selanjutnya basuhlah bagian tubuh sblh kanan si mayit dr pundak sampai ke telapak kaki kanannya dgn membalikkan tubuhnya ke sebelah kiri.
·         kemudian basuhlah bagian tubuh sebelah kiri si mayit dr pundaknya sampai ke telapak kaki kirinya dgn membalikkan tubuhnya ke sebelah kanan.
·         ulangilah pembasuhan sekali lagi.
·         kemudian tubuh si mayit dikeringkandg handuk, mulai dr wajah,dada,punggung,kedua pundak&tangannya srta kedua kaki dan betisnya. Lalu handuk tersebut diletakkan diatas handuk penutup aurat si mayit yg sudah basah td untuk menggantikannya.
Selesailah proses memandikan jenazah, setelah itu jenazah siap untuk dikafani.


Mengkafani
Pada dasarnya tujuan mengkafani adalah menutup seluruh bagian tubuh mayit. Walaupun demikian para fuqaha’ memberi batasan tertentu sesuai dengan jenis kelamin mayit.
 Batasan-batasan tersebut adalah sebagai berikut:
§  Batas Minimal
Batas minimal mengkafani mayit, baik laki-laki ataupun perempuan, adalah selembar kain yang dapat menutupi seluruh tubuh mayit.
§  Batas Kesempurnaan
o   Bagi mayit laki-laki
Bagi mayit laki-laki yang lebih utama adalah 3 lapis kain kafan dengan ukuran panjang dan lebar sama, dan boleh mengkafani dengan 5 lapis yang terdiri dari 3 lapis kain kafan ditambah surban dan baju kurung, atau 2 lapis kain kafan ditambah surban, baju kurung dan sarung.
o   Bagi mayit perempuan
Bagi mayit perempuan atau banci, kafannya adalah 5 lapis yang terdiri dari 2 lapis kain kafan ditambah kerudung, baju kurung dan sewek.
Kain kafan yang dipergunakan hendaknya berwarna putih dan diberi wewangian, bila mengkafani lebih dari ketentuan batas maka hukumnya makruh, sebab dianggap berlebihan.

Cara-cara Praktis Mengkafani Mayit
Menyiapkan 5 lembar kain berwarna putih yang terdiri dari surban atau kerudung, baju kurung, sarung atau sewek, dan 2 lembar kain untuk menutup seluruh tubuh mayit. Untuk memudahkan proses mengkafani, urutan peletakannya adalah sebagai berikut:
·         Tali.
·          Kain kafan pembungkus seluruh tubuh.
·          Baju kurung.
·         Sarung atau sewek.
·         Sorban atau kerudung.
·         Setelah kain kafan diletakkan di tempatnya, letakkan mayit yang telah selesai dimandikan dengan posisi terlentang di atasnya dalam keadaan tangan disedekapkan.
·         Letakkan kapas yang telah diberi wewangian pada anggota tubuh yang berlubang, anggota tubuh ini meliputi:

1.      Mata
2.      Lubang hidung
3.      Telinga
4.       Mulut
5.       Dubur


Demikian juga pada anggota sujud, meliputi:

1.      Jidat
2.       Hidung
3.      Kedua siku
4.      Telapak tangan
5.      Jari-jari telapak
6.      kaki

 Mengikat pantat dengan kain sehelai.
·         Memakaikan baju kurung, sewek atau sarung, dan surban atau kerudung.
·          Mayit dibungkus dengan kain kafan yang menutupi seluruh tubuhnya, dengan cara melipat lapisan pertama, dimulai dari sisi kiri dilipat ke sisi kanan, kemudian sisi kanan dilipat ke kiri. Begitu pula untuk lapis kedua dan ketiga.
·         Mengikat kelebihan kain di ujung kepala dan kaki (dipocong), dan diusahakan pocongan kepala lebih panjang.
·          Setelah ujug kepala dan ujung kaki diikat, sebaiknya ditambahkan ikatan pada bagian tubuh mayit; seperti perut dan dada, agar kafan tidak mudah terbuka saat dibawa ke pemakaman.

Menshalati

Hal-hal yang berkaitan dengan menshalati mayit secara garis besar ada tiga, yakni syarat, rukun, dan hal-hal yang disunahkan di dalamnya, adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1.      Syarat Shalat Mayit
a)      Mayit telah disucikan dari najis baik tubuh, kafan maupun tempatnya.
b)      Orang yang menshalati telah memenuhi syarat sah shalat.
c)      Bila mayitnya hadir, posisi mushalli harus berada di belakang mayit. Adapun aturannya adalah sebagai berikut:
Mayit laki-laki:
Mayit dibaringkan dengan meletakkan kepada di sebelah utara. Imam atau munfarid berdiri lurus dengan kepala mayit.
Mayit perempuan
Cara peletakkan mayit sama dengan mayit laki-laki, sedangkan imam atau munfarid berdiri lurus dengan pantat mayit.
d)      Jarak antara mayit dan mushalli tidak melebihi 300 dziro’ atau sekitar 150 m. Hal ini jika shalat dilakukan di luar masjid.
e)      Tidak ada penghalang antara keduanya; misalnya seandainya mayit berada dalam keranda, maka keranda tersebut tidak boleh dipaku.
f)       Bila mayit hadir, maka orang yang menshalati juga harus hadir di tempat tersebut.

2.      Rukun Shalat Mayit

a)      Niat.
Apabila mayit hanya satu, niatanya adalah:

أُصَلِّيْ عَلٰى هٰذَا الْمَيِّتِ/ هٰذِهِ الْمَيِتَةِ ِللهِ تَعَالٰى      
         
Dan jika banyak, niatnya adalah:

أُصَلِّي عَلٰى مَنْ حَضَرَ مِنْ أَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ        
                
b)      Berdiri bagi yang mampu.
c)      Melakukan takbir sebanyak empat kali termasuk takbiratul ihram.
d)      Membaca surat Al Fatihah setelah takbir pertama.
e)      Membaca shalawat Nabi setelah takbir kedua.
f)       Mendo’akan mayit setelah takbir ketiga
g)      Mengucapkan salam pertama setelah takbir keempat.

Pemakaman Mayit

a.       Persiapan
Sebelum mayit diberangkatkan ke pemakaman, liang kubur, semua peralatan pemakaman harus sudah siap.
b.      Liang Kubur
·         Bentuk
Dalam kitab kuning dikenal dua jenis liang kubur:
o   Liang cempuri
Yakni liang kubur yang bagian tengahnya digali sekiranya cukup untuk menaruh mayit. Model ini untuk tanah yang gembur.
o   Liang lahat
Yakni liang kubur yang sisi sebelah baratnya digali sekiranya cukup untuk menaruh mayit. Model ini untuk tanah yang keras. Pada dasarnya liang ini lebih utama daripada liang cempuri.
·         Ukuran
o   Batas minimal
Batas minimal liang kubur adalah membuat lubang yang dapat mencegah keluarnya bau mayit serta dapat mencegah dari binatang buas.
o   Batas kesempurnaan
Batas kesempurnaan liang kubur adalah membuat liang dengan ukuran sebagai berikut:
Ø  Panjang
Sepanjang mayit ditambah tempat yang cukup untuk orang yang menaruh mayit.
Ø  Lebar
Seukuran tubuh mayit ditambah tempat yang sekiranya cukup untuk orang yang menaruh mayit.
Ø  Dalam
Setinggi postur tubuh manusia ditambah satu hasta.

Prosesi Pemakaman

Dalam praktek pemakaman mayit dalam dapat dilakukan prosesi sebagai berikut:
§  Sesampainya mayit di tempat pemakaman, keranda diletakkan pada arah posisi peletakkan kaki mayit.
§  Jenazah dikeluarkan dari keranda, dimulai dari kepalanya, lalu diangkat dengan posisi agak miring dan wajah jenazah menghadap qiblat secara pelan-pelan.
§  Jenazah diserahkan pada orang yang yang sudah bersiap-siap dalam liang untuk menguburnya. Hal ini dilakukan oleh tiga orang, orang pertama menerima bagian kepala, orang kedua bagian lambung, dan orang ketiga bagian kaki.

§  Bagi orang yang menerima mayit disunahkan membaca do’a:

اللّـٰهُمَّ افْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوْحِهِ، وَأَكْرِمْ مَنْزِلَهُ، وَوَسِّعْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ    
        
§  Dan bagi orang yang meletakkan disunahkan membaca:

بِاسْمِ اللهِ وَعَلٰى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ.              

§  Kemudian mayit diletakkan di liang kubur dan dihadapkan ke arah qiblat dengan posisi miring pada lambung sebelah kanan.
§  Menyandarkan wajah dan kaki pada dinding bagian dalam liang.
§  Memberi bantalan tanah liat pada bagian kepala.
§  Mengganjal bagian punggungnya dengan gumpalan tanah atau batu bata agar mayit tetap dalam posisi miring menghadap kiblat.
§  Membuka simpul, terutama bagian atas, kemudian meletakkan pipinya pada bantalan tanah liat yang telah ada.
§  Salah satu pengiring mengumandangkan adzan dan iqamah di dalam liang kubur. Adapun lafadznya sama dengan lafadz adzan dan iqamah dalam shalat.
§  Bagian atas mayit ditutup dengan papan atau bambu sampai rapat, kemudian liang kubur ditimbun dengan tanah.
§  Membuat gundukan setinggi satu jengkal dan memasang dua batu nisan, satu lurus dengan kepala dan satunya lagi lurus dengan kaki mayit.
§  Menaburkan bunga, memberi minyak wangi dan memercikan air di atas makam.
§  Selanjutnya, salah satu pihak keluarga atau orang ahli ibadah melakukan prosesi talqin mayit. Kesunahan mentalqin ini hanya berlaku bagi mayit dewasa dan tidak gila.
§   Mulaqin duduk dengan posisi menghadap muka kepala mayit, sedangkan para hadirin dalam posisi berdiri.
§  Mulaqin mulai membaca bacaan talqin sebanyak tiga kali. Adapun contoh bacaan talqin adalah:

يَافُلاَنُ ابْنُ فُلاَنَةَ، يَافُلاَنُ ابْنُ فُلاَنَةَ، يَافُلاَنُ ابْنُ فُلاَنَةَ، اُذْكُرْ مَاخَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْياَ: شَهَادَةُ أَنْ لاَإِلٰـهَ إِلاَّ اللهُ،         وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيْتَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْأَنِ إِمَامًا.     
    
§  Setelah liang kubur ditutup, sebelum ditimbun dengan tanah, para pengiring disunahkan mengambil tiga genggam tanah bekas galian kemudian menaburkannya ke dalam liang kubur.
a)      Pada taburan pertama membaca:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ، اللّـٰهُمَّ لَقِّنْهُ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ حَجَّتَهُ.                   
b)      Do'a pada taburan kedua:

وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ، اللّـٰهُمَّ افْتَحْ أَبْوَابَ السَّماَءِ لِرُوْحِهِ                    
c)      Do'a pada taburan ketiga:

وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرٰى، اللّـٰهُمَّ جاَفِ اْلأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ.           
               
§  Setelah selesai talqin pihak keluarga dan para hadirin tinggal sebentar untuk mendo’akan mayit. Adapun do’anya adalah:

اللّـٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، اللّـٰهُمَّ ثَبِّتْهُ عِنْدَ السُؤَلِ          
          
§  Setelah selesai berdo’a secukupnya, para hadirin pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar